daerah

Wagub Jateng Tegaskan Sinergi dengan Rifa’iyah untuk UMKM, Pendidikan, dan Dakwah

Minggu, 26 April 2026 | 14:51 WIB
Wagub Jateng Tegaskan Sinergi dengan Rifa’iyah untuk UMKM, Pendidikan, dan Dakwah

TEMANGGUNG - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan arah kemitraannya dengan Jam’iyah Rifa’iyah tidak berhenti pada simbolik organisasi, tetapi menyasar penguatan ekonomi umat, akses pendidikan, dan ketahanan nilai keagamaan di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, saat menghadiri pelantikan pengurus wilayah sekaligus pembukaan Musyawarah Kerja Wilayah (Mukerwil) V Rifa’iyah Jawa Tengah, di Gedung Pemuda Pemkab Temanggung, Minggu, 26 April 2026.

Dalam sambutannya, tokoh yang akrab disapa Gus Yasin ini menempatkan Rifa’iyah sebagai mitra strategis dalam pembangunan berbasis komunitas Pemprov Jateng.

Salah satu bentuk konkret yang sudah berjalan adalah dukungan terhadap UMKM binaan Rifa’iyah, khususnya batik khas Rifa'iyah dari Batang.

“Setiap ada kegiatan, kami sengaja menghadirkan batik Rifa'iyah sebagai cinderamata,” kata Wagub yang memimpin Jawa Tengah bersama Gubernur Jateng Ahmad Luthfi tersebut.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi menghubungkan kekuatan sosial-keagamaan dengan ekonomi lokal.
Rifa’iyah dinilai memiliki basis jamaah kuat sekaligus tradisi produksi yang bisa dikembangkan sebagai ekosistem ekonomi mandiri.

Di sektor pendidikan, Pemprov Jateng juga membuka akses beasiswa bagi guru, kiai, dan santri, termasuk dari kalangan Rifa’iyah. Program ini diharapkan mempercepat peningkatan kualitas SDM berbasis pesantren tanpa sekat organisasi.

“Silakan dimanfaatkan. Kita ingin kader-kader Rifa’iyah ikut maju lewat pendidikan. Tidak ada dikotomi, semua punya kesempatan yang sama,” tegasnya.

Namun, pendekatan pembangunan itu tidak dilepaskan dari fondasi nilai. Dalam sambutannya, Gus Yasin mengaitkan peran organisasi keagamaan dengan pelajaran dari kisah Nabi Yunus dan Nabi Muhammad.

Ia menyoroti bagaimana dakwah tidak selalu berbuah cepat, bahkan bisa dihadapkan pada penolakan. Nabi Yunus, misalnya, sempat meninggalkan kaumnya di Ninawa karena tidak dihiraukan. Namun justru setelah itu masyarakat berbalik kepada tauhid. Sebaliknya, Nabi Muhammad mendapatkan penguatan melalui peristiwa Isra Mikraj di tengah tekanan dakwah.

Dua kisah tersebut, menurut Gus Yasin, memberi pesan yang sama bahwa konsistensi dan keteguhan lebih penting daripada ukuran keberhasilan jangka pendek.

“Dakwah itu tidak boleh ‘ngambek’. Didengar atau tidak, ada pengikut atau tidak, harus tetap jalan. Itu pelajaran penting bagi pemimpin,” ujarnya.

Pesan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa organisasi seperti Rifa’iyah tidak boleh merasa kecil. Apalagi, kontribusinya dalam khazanah keilmuan Islam di Jawa sudah meluas, bahkan melintasi batas organisasi seperti Nahdlatul Ulama.

Ajaran dan karya Ahmad Rifa'i disebut masih menjadi rujukan lintas kalangan, baik dalam bentuk kitab maupun syiiran yang hidup di masyarakat pesantren.

Halaman:

Terkini