Jateng Tanam Puluhan Ribu Mangrove, Perkuat Benteng Pesisir Hadapi Perubahan Iklim

photo author
Muh Akhsan, Pantura Network
- Sabtu, 6 Juni 2026 | 18:29 WIB
Jateng Tanam Puluhan Ribu Mangrove, Perkuat Benteng Pesisir Hadapi Perubahan Iklim
Jateng Tanam Puluhan Ribu Mangrove, Perkuat Benteng Pesisir Hadapi Perubahan Iklim

Selain persoalan pesisir, Luthfi juga menyoroti ancaman penurunan muka tanah yang dipicu pengambilan air tanah secara berlebihan. Ia meminta evaluasi kebijakan pengelolaan air tanah dilakukan lebih intensif untuk mencegah dampak yang lebih luas, terutama di kawasan pantai.

“Perda air tanah segera dilakukan evaluasi. Jangan setahun kelamaan. Tiga bulan sekali evaluasi,” katanya.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mendorong penguatan layanan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) melalui BUMD serta pemanfaatan teknologi desalinasi untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat pesisir.

“Daerah Pekalongan, Demak, Pati, yang pantainya para nelayan, kita kasih desalinasi. Air payau kita ubah menjadi air tawar,” ujar Luthfi.

Dalam kesempatan tersebut, ia turut menyoroti persoalan sampah yang menjadi tantangan besar bagi daerah. Sejalan dengan target nasional, Jawa Tengah mendukung agenda Indonesia mencapai zero waste pada 2029.

“Sampah merupakan bagian daripada lingkungan hidup. Sampah ini sudah diperintah oleh Bapak Presiden, 2029 Indonesia harus zero sampah, termasuk kita, termasuk kabupaten/kota,” katanya.

Pemprov Jateng telah memetakan strategi penanganan sampah berdasarkan volume timbulan di masing-masing daerah. Wilayah dengan produksi sampah sekitar 1.000 ton per hari diarahkan menggunakan sistem pengelolaan regional atau aglomerasi, sementara daerah dengan volume lebih rendah didorong memanfaatkan teknologi refuse-derived fuel (RDF) yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif industri semen.

Usai kegiatan, Luthfi kembali menegaskan bahwa seluruh kawasan pesisir Pantura membutuhkan perhatian serius karena menghadapi ancaman rob dan abrasi yang semakin tinggi akibat perubahan iklim.

“Semua garis pantai Pantura harus kita rawat, karena memang robnya sangat tinggi sekali, termasuk abrasi,” katanya.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Jawa Tengah mengusung tema Saatnya Bekerja untuk Iklim. Tema tersebut dinilai relevan dengan kondisi daerah yang semakin rentan terhadap bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir, rob, cuaca ekstrem, hingga abrasi pantai.

Bagi masyarakat, upaya menjaga lingkungan tidak hanya berkaitan dengan pelestarian alam, tetapi juga menyangkut perlindungan ruang hidup, ketersediaan air bersih, keamanan permukiman pesisir, dan masa depan generasi yang akan datang.

Dengan demikian, keberhasilan menghadapi krisis lingkungan sangat bergantung pada kesadaran dan partisipasi seluruh elemen masyarakat.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Muh Akhsan

Rekomendasi

Terkini

X