Data Statistik yang Salah: Bupati Rembang Dapat Kritik Tajam dari Masyarakat

photo author
Marko Komar, Pantura Network
- Senin, 28 Oktober 2024 | 07:00 WIB
ANTUSIAS : Bupati Rembang salah baca data, beberapa waktu  (Istimewa for Pantura Network)
ANTUSIAS : Bupati Rembang salah baca data, beberapa waktu (Istimewa for Pantura Network)

PANTURA NETWORK -- Dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan, Bupati Rembang, H. Abdul Hafidz, baru-baru ini telah salah membaca data statistik yang berkaitan dengan angka pengangguran di daerahnya.

Kesalahan ini memicu reaksi beragam dari masyarakat dan pengamat, yang mempertanyakan akurasi informasi yang disampaikan oleh pemimpin daerah.

Acara yang berlangsung di Kantor Kecamatan Rembang ini dihadiri oleh 529 tamu, termasuk kepala desa di Kec. Rembang, Ibu-ibu PKK, dan berbagai undangan lainnya, dengan harapan mendapatkan wawasan tentang perkembangan ekonomi dan pemerintahan di wilayah tersebut.

Baca Juga: Pecahnya Koalisi: Vivit-Umam Tersisih di Tengah Kampanye Meriah di Sarang

Acara dimulai dengan pembukaan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan doa bersama. Camat Rembang memberikan sambutan, selanjutnya, anggota DPRD Dapil 1, Absanto, yang turut memberikan pandangannya.

Abdul Hafidz, Bupati Rembang, kemudian mempresentasikan data pertumbuhan ekonomi berdasarkan informasi dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Bupati Hafidz dalam sambutannya menyoroti prestasi menarik minat investor Korea untuk mendirikan pabrik sepatu di Clangapan.

Perhatian hadirin segera beralih ke data pengangguran yang disajikan oleh Hafidz. Ia mengklaim bahwa angka pengangguran di Rembang menunjukkan tren penurunan yang signifikan.

Baca Juga: Demi Keselamatan Warga, Harno Usulkan Armada Pemadam di Rembang

Data pengangguran dari 2019 hingga 2022 menunjukkan ketidakstabilan yang mengkhawatirkan. Pada 2019, pengangguran pusat mencapai 5,28%, provinsi 4,49%, dan Rembang 3,69%.

Tahun 2020, angka melonjak: pusat 7,76%, provinsi 6,48%, Rembang 4,08%. Tahun 2021, meskipun pusat menurun ke 6,49% dan provinsi 5,09%, Rembang malah naik ke 4,67%. Pada 2022, meski Rembang turun drastis ke 1,76%, fluktuasi sebelumnya menunjukkan tantangan serius dalam pengelolaan ketenagakerjaan.

Namun, analisis lebih lanjut terhadap data ini menimbulkan keraguan. Dalam buku “Average is Always Wrong” dan “How to Lie with Statistics,” dijelaskan bagaimana statistik dapat disalahgunakan atau disalahartikan, dan kasus ini tampaknya mencerminkan beberapa prinsip tersebut.

Baca Juga: Sosok di Balik Vivit untuk Maju di Pilkada Rembang?

Salah satu masalah utama adalah pengabaian tren fluktuatif. Meskipun Hafidz menekankan penurunan yang terjadi pada 2022, ia mengabaikan kenaikan pengangguran pada 2020 (4,08%) dan 2021 (4,67%). Ini menunjukkan bahwa situasi tidak sesederhana yang dipaparkan, dan perbaikan mungkin hanya bersifat sementara atau disebabkan oleh faktor lain yang tidak disebutkan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Marko Komar

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X