"Acaranya bagus banget ya, kita jadi tahu bupati-bupati terdahulu, kita jadi tahu sejarah," ungkap Desi dengan antusias.
Ia bahkan tak menyangka bisa melihat pusaka asli secara langsung. "Eh, ternyata pusakanya beneran ada. Harapannya untuk Hari Jadi Banyumas kali ini menjadi lebih baik lagi."
Senada dengan Desi, Imam Arif Budiman menjadikan momentum kirab ini sebagai sarana pendidikan luar ruang bagi keluarganya. Memboyong istri dan kedua anaknya, Imam ingin memastikan nilai-nilai budaya Banyumasan tetap dikenal oleh anak-anaknya sejak dini.
"Tujuannya ya memperkenalkan budaya Banyumas, hiburan, dan pendidikan juga, biar anak-anak tahu sejarah Banyumas," ujar Imam.
Sebagai warga yang setia menonton kirab setiap tahunnya, ia berharap tradisi ini terus dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya.
"Semoga Banyumas ke depannya lebih maju, lebih sejahtera, dan acara seperti ini diadakan terus," imbuhnya.
Prosesi kirab pusaka berlangsung pukul 08.40 WIB, dan selesai sekitar pukul 14.30 WIB. Dengan rute sejauh 1,2 Km.
Sehari sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, juga sempat meresmikan Wahana Wisata dan Edukasi Sejarah D'Sabin Banokeling di Desa Tamansari, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas.
Peresmian itu sebagai wujud dukungan Pemprov Jateng dalam melestarikan sejarah dan menjaga tradisi leluhur untuk generasi penerus. Wahana ini bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan pusat edukasi yang mengangkat sejarah Kerajaan Pasir Luhur.
"Sejarah dan tradisi dalam perkembangan zaman itu sudah semakin luntur. Karenanya harus terus dilestarikan," pungkasnya.***