Di sinilah tradisi Umbul Dungo Wiwit Pari hadir memberikan jawaban. Jauh sebelum isu sustainability dan pembangunan berkelanjutan digembor-gemborkan oleh masyarakat modern, warga Teluk Awur sudah mempraktikkannya. Mereka mengajarkan bahwa menjaga alam sama artinya dengan menjaga kelangsungan hidup manusia itu sendiri.
Baca Juga: Sekolah Rakyat di Jateng Tampung 2.692 Siswa, Gus Yasin Sebut Putus Rantai Kemiskinan
Generasi Muda dan Tantangan Pelestarian Budaya
Selain nilai ekologis dan spiritual, tradisi ini adalah perekat sosial yang sangat ampuh. Saat doa selesai dibacakan, santap bersama menjadi momen paling hangat. Makanan dibagikan dan dinikmati bersama-sama.
Anak-anak yang ikut serta secara tidak langsung belajar tentang kerja keras petani, rasa syukur, dan indahnya gotong royong tanpa perlu ceramah panjang lebar di dalam kelas.
Melestarikan tradisi seperti Umbul Dungo Wiwit Pari bukanlah bentuk penolakan terhadap modernisasi. Justru sebaliknya, tradisi adalah kompas moral agar kita tidak kehilangan identitas di tengah
derasnya arus zaman.
Sebab pada akhirnya, di balik hamparan padi yang menguning di Desa Teluk Awur, tersimpan pesan abadi: bahwa manusia akan selalu menemukan ketenangan saat ia mampu hidup selaras dengan alam, sesama, dan Penciptanya.***