khazanah

Harmoni Alam dan Manusia dalam Tradisi Umbul Dungo Wiwit Pari Desa Teluk Awur

Kamis, 6 Agustus 2026 | 15:32 WIB
Pemerintah setempat dan masyarakat melakukan Tradisi Umbul Dungo Wiwit Pari (Istimewa for Pantura Network )

Jepara -- Apa yang kalian bayangkan ketika berkumpul di pinggir sawah, menghirup aroma lempung, dan menatap bulir-bulir padi keemasan bergoyang tertiup angin laut?. Bagi masyarakat Desa Teluk Awur, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, momen menjelang panen bukan sekadar hitung-hitungan untung-rugi hasil tani.

Di sanalah sebuah simfoni kehidupan dirayakan melalui tradisi turun-temurun bernama Umbul Dungo Wiwit Pari.

Di tengah gempuran zaman yang serba cepat dan individualis, warga agraris-pesisir Teluk Awur memilih untuk sejenak berhenti. Mereka berkumpul menatap hamparan hijau, membawa tampah berisi makanan, lalu duduk bersila bersama. Tidak ada sekat status sosial, tidak ada sekat usia. Semuanya melebur dalam satu napas doa.

Baca Juga: Perbaikan Jalan Jepara-Kelet Dimulai, Ruas Sekuro Mlonggo Dibeton Rp7,9 Miliar

Lantas, apa yang membuat tradisi lokal ini begitu spesial dan sangat relevan untuk kehidupan kita hari ini?

Hamparan Sawah Sebagai Ruang Kehidupan

Kata "wiwit" berarti memulai, dan "pari" berarti padi. Secara harfiah, Wiwit Pari adalah ritual memulai petik hasil bumi. Namun, bagi masyarakat Jawa, sawah bukan sekadar pabrik penghasil beras. Sawah adalah ruang kehidupan yang memiliki nilai kesucian.

Dalam pandangan kosmologis warga desa, manusia tidak pernah hidup sendirian di bumi. Ada tanah yang setia menopang langkah, air yang menghidupkan benih, angin yang menyejukkan daun, dan sinar matahari yang memberi energi. Unsur-unsur alam ini bekerja dalam keharmonisan yang sempurna.

Melalui Umbul Dungo Wiwit Pari, warga memanjatkan doa sebagai ungkapan syukur sekaligus bentuk komunikasi spiritual. Mereka menyadari bahwa rezeki dan hasil panen bukanlah melulu hasil kehebatan tangan manusia, melainkan anugerah Tuhan yang dititipkan lewat kemurahan alam.

Baca Juga: Pelantikan Pengurus NPCI Jepara 2025-2030, Fokus Perluas Akses Atlet Disabilitas

Padi adalah guru kehidupan yang pendiam.

1. Ilmu Kerendahan Hati
Falsafah klasik "seperti padi, makin berisi makin merunduk" mengajarkan kita tentang cara bersikap. Saat kekayaan, ilmu, atau jabatan seseorang makin tinggi, ia justru harus semakin rendah hati dan bermanfaat bagi sesamanya.

2. Seni Bersabar
Padi tidak tumbuh dalam semalam. Ada proses panjang mulai dari menyebar benih, mengairi, merawat dari hama, hingga menunggu waktu panen yang tepat. Di era serba instan saat ini, filosofi padi menjadi pengingat bahwa setiap keberhasilan sejati membutuhkan proses dan ketekunan.

Menjawab Alarm Krisis Ekologis

Saat ini dunia sedang tidak baik-baik saja. Perubahan iklim, tanah yang rusak akibat bahan kimia berlebih, hingga bencana alam menjadi pertanda bahwa hubungan manusia dan alam sedang renggang. Alam sering kali dieksploitasi habis-habisan demi keuntungan jangka pendek.

Halaman:

Tags

Terkini

Pengkhianatan Nuzulul Qur'an

Rabu, 4 Maret 2026 | 01:52 WIB

Nuzulul Qur'an dan Sunyi yang Mengajarkan Makna

Jumat, 20 Februari 2026 | 22:35 WIB

Penjelasan dan Makna Al-Muhsi dari Asmaul Husna

Selasa, 23 September 2025 | 01:23 WIB

Penjelasan dan Makna Al-Hamid dari Asmaul Husna

Selasa, 23 September 2025 | 00:41 WIB

Penjelasan dan Makna Al-Waliyy dari Asmaul Husna

Minggu, 21 September 2025 | 20:17 WIB

Makna dan Penjelasan Al Matin dari Asmaul Husna

Minggu, 21 September 2025 | 19:43 WIB

Al-Wakil dari Asmaul Husna, Apa Makna dan Penjelasannya?

Minggu, 21 September 2025 | 19:21 WIB

Penjelasan dan Makna Al-Qawiyy dari Asmaul Husna

Minggu, 21 September 2025 | 19:06 WIB