PANTURANETWORK.COM -- Kabupaten Tegal termasuk kategori kota tua dalam catatan peradaban sejarah perdagangan atau bisnis, hal itu tercatat dalam sejarah jalur sutera sebelum VOC dan kolonial masuk ke Nusantara.
Hal itu, berpengaruh pada keberadaan dinamika ekonomi masyarakat kabupaten Tegal. Kurang lebih 31.000 jumlah yang besar angka santri dan santriwati mengutip dari data Pemda. Belum di tambah dengan alumni santri, atau santri Mudin, santri kalong dan sosial masyarakat umum kabupaten Tegal.
Itu kekayaan sumber daya manusia atau kekuatan pendidikan non formal yang menjadi kekuatan benteng peradaban masyarakat dan bangsa Indonesia.
Pesantren sebagai pilar pendidikan sudah sangat tepat keberadaan dan fungsinya. Partisipasi pesantren di era globalisasi 4.0 menjelang 5.0 sangat penting keberadaanya.
Pengusaha santri dengan gerakan pendidikan wirausaha sejak dini kepada santri sebagai cara untuk mendorong kemandirian dan mencetak sikap mental positif.
Dalam membumbikan visi misi ekonomi kerakyatan, masyarakat Pesantren sudah banyak memuaskan pendidikan atau keilmuwan wirausaha.
Ada banyak kurikulum pendidikan pesantren berbasis pertanian, pesantren berbasis ekonomi kerakyatan. Ada banyak hasil pertanian di sekeliling pesantren, ada banyak perputaran ekonomi di lingkungan pesantren. Ini bukti para ulama NU sudah lama sebelum bangsa ini berdiri sudah berkontribusi pada bangsa dan negara ini.
Hal itu di sampaikan Eko Wahyudi ketua HIPSI (Himpunan pengusaha Santri Kabupaten Tegal) pada pelantikan Bupati dan Wakil bupati Tegal 2025- 2030.***