Jepara -- Kentrung merupakan pertunjukan seni tutur tradisional khas Jepara yang menyajikan perpaduan harmonis antara kemahiran bercerita, humor segar, dan petikan irama instrumen musik yang begitu khas.
Berbeda dari pertunjukan wayang kulit yang terkesan megah, membutuhkan panggung luas, dan diiringi oleh seperangkat gamelan lengkap beserta puluhan pengrawit, kesenian Kentrung tampil jauh lebih ringkas, sederhana, namun terasa sangat personal.
Nama "Kentrung" sendiri lahir secara onomatope dari bunyi instrumen musik pengiring utamanya, yakni pola ritme klung-ptung atau thung-trung yang dihasilkan dari kombinasi tabuhan terbang (rebana) dan kendang.
Uniknya, pertunjukan ini tidak memerlukan rombongan penabuh musik yang besar; keseluruhan acara hanya digerakkan oleh seorang atau beberapa seniman saja yang menabuh instrumen, sembari menyampaikan narasi secara langsung di hadapan para penonton yang duduk melingkar.
Baca Juga: Dari Turuk Bintol sampai Adon-Adon Coro, Ini Deretan Kuliner Jepara yang Namanya Bikin Penasaran
Pusat daya tarik utama kesenian Kentrung berada sepenuhnya di tangan sang Dalang Kentrung. Tanpa menggunakan media panggung khusus, kelir, maupun boneka wayang, sang dalang murni mengandalkan kekuatan intonasi suara, artikulasi dramatis, keahlian mengolah mimik wajah, serta kemampuan menirukan berbagai karakter tokoh untuk menghidupkan suasana cerita di dalam imajinasi pendengarnya.
Tidak hanya itu, seorang dalang kentrung juga dituntut memiliki kepiawaian berimprovisasi yang sangat tinggi guna merespons interaksi, celetukan, maupun suasana hati penonton di tengah gelaran pertunjukan.
Adapun lakon atau cerita yang dibawakan sangat kaya dan beragam, mulai dari kisah-kisah hikayat para nabi, sejarah panjang penyebaran agama Islam oleh Walisongo, hingga babad tanah Jawa dan cerita rakyat lokal yang kental akan kearifan lokal. Di sela-sela penuturan cerita yang serius, dalang kerap menyelipkan parikan (pantun Jawa), nada-nada humor yang menggelitik, serta wejangan moral yang sangat relevan dengan kehidupan sosial masyarakat.
Baca Juga: Mahasiswa 14 Negara Belajar Langsung Ukir Jepara
Dalam rekam jejak sejarahnya, Kentrung memegang fungsi sosial dan spiritual yang amat penting bagi kehidupan masyarakat Jepara. Kesenian ini acapkali dipanggil untuk mengisi acara nazar atau hajatan keluarga sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas momen kelahiran anak, prosesi khitanan, maupun resepsi pernikahan.
Selain sebagai sarana nazar pribadi, Kentrung juga menjadi sajian utama pada momen perayaan Sedekah Bumi di pedesaan, berfungsi sebagai sarana hiburan rakyat sekaligus media pemersatu antarwarga usai menyelesaikan masa panen.
Nilai-nilai kebersamaan, rasa saling menghormati, dan pendidikan karakter disampaikan secara halus tanpa terkesan menggurui melalui bait-bait tutur sang dalang. Atas nilai historis, filosofis, dan kebudayaannya yang begitu tinggi, kesenian ini ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Keberadaan Kentrung menjadi bukti betapa kaya dan adiluhungnya tradisi lisan di Tanah Jawa.
Baca Juga: Job Fair Jateng Perluas Akses Kerja, Disabilitas Turut Jadi Sasaran
Menjaga seni tutur bernilai tinggi ini agar tidak hilang ditelan zaman memerlukan langkah-langkah pelestarian yang berkelanjutan—seperti mengintegrasikannya ke dalam ruang-ruang edukasi sekolah, festival budaya tahunan, hingga dokumentasi digital. Dengan demikian, seni tutur Kentrung yang sarat akan kearifan lokal ini dapat terus dipelajari, dinikmati, dan menjadi warisan kebanggaan lintas generasi.***