Tetapi perjalanan wisata yang hanya berhenti di pantai sebenarnya baru mengenal separuh Karimunjawa.
Separuh lainnya ada di dapur warga.
Ada di pasar, Ada di rumah-rumah, Ada di cerita para orang tua, Dan ada di panggung-panggung kecil tempat anak-anak belajar menari.
Cultural Food Village mencoba membawa sisi tersebut ke depan.
Ketika Makanan Tidak Sekadar Soal Rasa
Ada alasan mengapa kata food menjadi bagian penting dalam kegiatan semacam ini.
Baca Juga: Gubernur Luthfi Dorong Pengembangan Pariwisata Karimunjawa agar Tarik Lebih Banyak Wisatawan
Makanan lokal sebenarnya merupakan salah satu cara paling sederhana untuk mengenalkan sebuah tempat.
Kita mungkin lupa nama jalan yang dilewati saat berlibur. Kita mungkin lupa persis nama sebuah bukit. Tetapi rasa makanan tertentu sering kali justru tinggal lebih lama di ingatan.
Karimunjawa sendiri memiliki beragam makanan khas yang lekat dengan karakter masyarakat kepulauan. Ada pindang serani, ikan srepeh, tongseng cumi, siomay tongkol, bakso ikan ekor kuning, pepes teri hingga klepon dan es gempol.
Baca Juga: Prabowo Resmikan Wajah Baru Stasiun Tawang, Siap Jadi Ikon Transportasi dan Wisata Sejarah
Makanan-makanan tersebut tidak muncul begitu saja.
Ada laut yang menyediakan bahan, Ada nelayan yang mencari ikan, Ada ibu-ibu yang mengolahnya, Ada resep yang diwariskan.
Dan ada kebiasaan makan yang terbentuk selama bertahun-tahun.
Artikel Terkait
Support Pariwisata, Pemdes Karimunjawa Bersih Pantai dan Pelabuhan
Gubernur Luthfi Dorong Pengembangan Pariwisata Karimunjawa agar Tarik Lebih Banyak Wisatawan
Wujudkan Percepatan Jepara Mulus, Bupati Jepara Witiarso Utomo Temui Kepala BBPJN Dorong Peningkatan Jalan di Karimunjawa dan Wilayah Pertanian
Outlook Pariwisata 2026: Liburan Singkat Jadi Pola Utama, Momentum dan Harga Kian Menentukan Rencana Perjalanan
Strategi Aglomerasi dan Desa Wisata Dongkrak Pariwisata Jawa Tengah Teratas Nasional