Di tengah arus balik Lebaran yang identik dengan kepadatan dan tingginya biaya perjalanan, program ini menghadirkan alternatif yang lebih manusiawi. Bukan hanya memindahkan orang dari satu kota ke kota lain, tetapi juga membawa rasa aman, dihargai, dan diperhatikan.
Ketika bus-bus itu perlahan meninggalkan Donohudan, mereka tak sekadar mengangkut penumpang. Di dalamnya, tersimpan cerita tentang negara yang mencoba hadir lebih dekat—melalui perjalanan yang lebih ringan, lebih nyaman, dan lebih bermakna.*