daerah

Sastra untuk Negeri, JAKER Kudus Dorong Generasi Muda Temukan Makna Lewat Puisi

Jumat, 1 Mei 2026 | 20:30 WIB
Sejumlah peserta dan narasumber dalam memperingati Bulan Puisi 2026, Sabtu (25/4/2026), di Sidji Coffee, Getas Pejaten, Kecamatan Jati. (Istimewa for Pantura Network)

PANTURA NETWORK -- Upaya menghidupkan kembali semangat literasi dan kebudayaan terus digelorakan di Kabupaten Kudus. Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) Kabupaten Kudus menggelar talkshow sastra bertajuk "Sastra untuk Negeri" dalam rangka memperingati Bulan Puisi 2026, Sabtu (25/4/2026), di Sidji Coffee, Getas Pejaten, Kecamatan Jati.

Sejak pagi pukul 08.00 WIB, kegiatan ini menjadi ruang temu lintas kalangan, mulai dari unsur Pemerintah Kabupaten Kudus, Forkopimda, akademisi, pelajar, hingga komunitas seni budaya. Mengusung subtema

"Menemukan Makna dalam Setiap Karya", forum ini tidak hanya menghadirkan diskusi, tetapi juga mempertemukan gagasan, pengalaman, dan semangat berkarya dalam satu ruang dialog terbuka.

Baca Juga: Wagub Jateng Dorong Pembukaan MTQ Nasional Libatkan Seni dan Budaya Lokal

Suasana semakin hidup saat acara diawali dengan pembacaan puisi oleh para pemenang lomba tingkat SD sederajat yang sebelumnya digelar JAKER Kudus. Penampilan Azzahra Asyila R.W (SD 1 Barongan) sebagai juara pertama, disusul Sely Aflaha (SDN Peganjaran) dan Gendhing Khahiyang L (SD Masehi Kudus), menuai apresiasi meriah dari para hadirin. Penampilan mereka menjadi simbol bahwa kecintaan terhadap sastra dapat ditanamkan sejak dini.

Memasuki sesi diskusi, sejumlah narasumber menghadirkan perspektif yang memperkaya pemahaman peserta. Penulis novel Menghadang Kubilai Khan, AJ. Susmana, menegaskan bahwa sastra memiliki peran lebih dari sekadar hiburan.

"Sastra bukan sekadar cerita, tetapi juga jejak pemikiran dan refleksi zaman yang dapat menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya," ujar AJ Susmana.

Baca Juga: Turnamen Voli MANDALIKA Cup 2026 MAN 2 Jepara Resmi Dibuka, KONI Dorong Budaya Olahraga di Kalangan Pelajar

Senada dengan itu, Wahyu Kristanto dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X menyoroti fungsi strategis sastra dalam menjaga identitas budaya di tengah derasnya arus modernisasi. Menurutnya, karya sastra mampu menjadi penghubung antara nilai-nilai masa lalu dengan realitas masa kini.

"Sastra bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, sekaligus memperkuat karakter budaya masyarakat," kata Wahyu.

Sementara itu, pegiat teater Kudus, Asa Jatmiko, menekankan pentingnya kolaborasi lintas seni dalam menghidupkan karya sastra. Ia menyebut pendekatan melalui seni pertunjukan seperti teater dapat memperluas cara masyarakat dalam memahami dan merasakan makna sebuah karya.

Baca Juga: Semarang Menyala! Warga Ngaliyan Sambut Agustina-Iswar dengan Spanduk dan Kesenian

Diskusi yang dipandu oleh Iman Khanafi dari Phos Zine Sastra berlangsung dinamis. Para peserta, khususnya pelajar dan mahasiswa, tampak aktif mengajukan pertanyaan serta berbagi pengalaman terkait proses kreatif mereka dalam membaca maupun menulis karya sastra.

Ketua panitia, Adrian, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang dialog sekaligus upaya konkret meningkatkan minat literasi di kalangan generasi muda.

"Melalui forum ini, kami berharap peserta tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga mampu menciptakan karya sastra yang relevan dengan kehidupan mereka," pungkas Adrian.

Tags

Terkini