Ditambahkan, menurunnya daya dukung dan kualitas lingkungan hidup, alih fungsi hutan dan lahan, serta masih adanya lahan kritis seluas 392,15 ribu hektare, semakin meningkatkan dampak perubahan iklim di Jawa Tengah.
Pemprov Jateng, ujarnya, merespon krisis iklim tersebut dengan beberapa upaya, antara lain rehabilitasi hutan dan lahan, pencegahan deforestasi, perlindungan kawasan bernilai ekosistem penting, dan pengelolaan ekosistem mangrove yang mendukung pelaksanaan program Pemerintah Pusat, yakni Indonesia’s Forest and Other Land Uses Net Sink (FOLU Net Sink) 2030.
Selanjutnya, upaya lain yang dilakukan adalah pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan hidup, pengawasan lingkungan hidup, pengamanan hutan, pengendalian kebakaran hutan dan lahan, penegakan hukum lingkungan hidup dan kehutanan, pemberdayaan masyarakat sekitar hutan, dan adaptasi atau mitigasi perubahan iklim.
“Kami mengajak seluruh lapisan masyarakat, pelaku usaha, perguruan tinggi, pegiat lingkungan dan para relawan bersama-sama menggalakkan lagi kegiatan menanam pohon, membuat sumur resapan, membuat biopori, dan kegiatan konservasi lainnya agar kondisi hutan dan lingkungan hidup menjadi pulih daya dukungnya,” kata Nana
Di tempat yang sama, sebanyak 3 sekolah di Kota Pekalongan juga meraih penghargaan Adiwiyata tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2024. Ketiganya adalah SD Negeri Kandang Panjang 02, SMP Negeri 3 Pekalongan, dan MTS Azzaky Kota Pekalongan.