news

81 Tahun Jateng: Sawah Dijaga, Petani Dikuatkan, Pangan Diamankan

Senin, 17 Agustus 2026 | 07:34 WIB
81 Tahun Jateng: Sawah Dijaga, Petani Dikuatkan, Pangan Diamankan

Upaya-upaya itu bukanlah isapan jempol belaka. Manfaat dukungan sarana pertanian antara lain dirasakan petani di Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang. Kelompok Tani Budi Luhur yang beranggotakan 80 petani mengelola lahan sekitar 35 hektare.

Sebelumnya, lahan di wilayah tersebut hanya mampu ditanami padi satu kali dalam setahun. Setelah memperoleh dukungan irigasi perpompaan dan alat mesin pertanian, petani dapat menanam hingga tiga kali, dengan produksi sekitar 7–7,5 ton per hektare.

Anggota Kelompok Tani Budi Luhur, Karyono, mengungkapkan, bantuan irigasi memberi petani keberanian untuk kembali mengolah lahan meski menghadapi ancaman kemarau panjang.

“Sejak mendapat bantuan irpom, petani di sini bisa merasakan panen tiga kali,” kata anggota Kelompok Tani Budi Luhur, Karyono.

Selain bantuan benih dan irigasi, modernisasi pertanian terus diperluas. Salah satunya melalui pola mekanisasi terintegrasi yang dikenal sebagai “sistem sepur”.

Mesin panen, pengolah tanah, penyemprot dekomposer, dan mesin tanam bekerja secara berurutan, sehingga lahan dapat segera ditanami kembali setelah panen.

Untuk lahan seluas dua hektare, pekerjaan yang secara manual membutuhkan waktu hingga 10 hari dapat diselesaikan dalam satu hari.

Percepatan tersebut membuka peluang peningkatan indeks pertanaman sekaligus menghemat waktu dan tenaga petani.

Penguatan produksi juga ditopang melalui rehabilitasi 334 paket jaringan irigasi tersier dan pembangunan 75 paket irigasi perpipaan.

Distribusi alat pertanian mencakup 100 unit mesin penanam padi, 86 traktor crawler, 30 traktor roda empat, 100 pompa air, 10 combine harvester, serta puluhan unit cultivator dan traktor tangan.

Perlindungan terhadap risiko usaha tani juga disiapkan. Pemprov Jateng mengalokasikan program Asuransi Usaha Tani Padi untuk lahan seluas 10.449 hektare serta subsidi suku bunga bagi 800 paket pembiayaan petani.

Perlindungan tersebut diperlukan agar petani tidak menanggung sendiri seluruh kerugian ketika lahannya terdampak bencana atau mengalami gagal panen.

Gubernur menegaskan, peningkatan produksi pangan membutuhkan keterlibatan seluruh kabupaten dan kota, terutama dalam menjaga lahan pertanian, memperkuat mekanisasi, dan mendampingi kelompok tani.

“Gapoktan kita openi, dari mulai pembibitan, pemupukan, sampai pascapanen,” katanya.

Tantangan belum selesai. Perubahan musim, ancaman kekeringan, alih fungsi lahan, dan distribusi hasil panen masih harus dihadapi. Karena itu, pemetaan wilayah rawan kekeringan, pipanisasi, sumurisasi, pemanfaatan sumber air baku, hingga penyaluran pompa terus dilakukan. Jawa Tengah juga telah menerima sekitar 17 ribu pompa untuk didistribusikan sesuai kebutuhan daerah.

Halaman:

Terkini