news

PKK Jateng Kenalkan “Tulus Hati”, Sentuhan Kasih untuk Tumbuh Kembang Bayi Sehat

Kamis, 9 Oktober 2025 | 19:52 WIB
PKK Jateng Kenalkan “Tulus Hati”, Sentuhan Kasih untuk Tumbuh Kembang Bayi Sehat

SEMARANG – Pijat bayi biasa dilakukan orang tua dengan memanfaatkan jasa spa bayi, maupun dukun pijat. Tapi, pemijatan itu akan lebih efektif jika orang tua sendiri yang melakukannya.

Hal itu yang membuat Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Jawa Tengah berkolaborasi bersama Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang, Perhimpunan Kedokteran Digital Terintegrasi Indonesia (Predigti), dan PZ Cusson Indonesia, menggerakkan Tulus Hati (Tuang, Usap, Elus, Hangatkan Buah Hati).

Kick Off Gerakan Tulus Hati digelar di Gradhika Bakti Praja, Kompleks Kantor Gubernur, Kamis (9/10/2025). Gerakan Tulus Hati berfokus pada edukasi masyarakat, khususnya ibu, bidan, serta kader PKK dan Posyandu di Jateng, tentang pentingnya pijat bayi dengan menggunakan bahan alami, seperti minyak telon.

Ketua TP PKK Jateng, Nawal Arafah Yasin menekankan, gerakan pijat bayi memberikan manfaat pada kesehatan, perkembangan motorik, dan kognitif bayi. Juga memperkuat ikatan emosional, kasih sayang, serta komunikasi antara ibu dan anak.

Menurut Nawal, sentuhan pada tubuh bayi tidak hanya memberikan rasa rileks dan nyaman, tetapi juga merangsang produksi hormon endorfin yang berperan dalam pertumbuhan otak dan organ lainnya. Terlebih, dilakukan menggunakan bahan alami.

"Pijat bayi yang dilakukan dengan menggunakan bahan alami, menjaga kesehatan bayi dari risiko paparan bahan kimia yang mungkin membahayakan bagi kesehatan dan kecerdasan bayi," katanya melalui video conference pada kegiatan "Kick Off Tulus Hati".

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2024, jumlah bayi di Indonesia sekitar 4,62 juta jiwa. Dari angka ini, 35 persen ibu memijatkan bayinya ke klinik baby spa, 30,4 persen ke dukun pijat, dan sisanya melakukan pemijatan sendiri.

Dikatakan Nawal, ada dua tantangan yang dihadapi terkait pijat bayi. Yakni minimnya pengetahuan dan keahlian tentang teknik pemijatan yang aman, serta penggunaan minyak atau obat-obatan yang berisiko terhadap kesehatan, fisik, psikologis, dan otak bayi.

"Sehingga teknik pemijatan yang tidak aman atau salah bagi bayi, ditambah dengan penggunaan minyak yang membahayakan, tentu dapat mengancam kualitas SDM Indonesia di masa mendatang," ungkap istri Wakil Gubernur Jateng tersebut.

Oleh sebab itu, pihaknya berharap agar program Tulus Hati dapat menjadi bekal pengetahuan bagi para kader PKK dan Posyandu, tentang cara atau teknik pijat bayi yang benar, aman, dan mendukung tumbuh kembang si buah hati.

Nawal juga mendorong kader PKK dan Posyandu bisa menjadi ujung tombak dalam menyukseskan program tersebut. Pasalnya, saat ini tercatat ada sekitar 1.984.308 kader PKK aktif, dan 49.149 lembaga Posyandu di Jateng.

"Saya percaya jika program ini dijalankan dengan penuh komitmen dan ketulusan. Maka manfatnya akan sangat luas, bukan hanya bagi bayi dan keluarga, tapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan," ucap Bunda Forum Anak Nasional Jateng tersebut.

Sementara Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang sekaligus Ketua Umum Predigti, Agus Ujianto, menyatakan dukungannya terhadap gerakan Tulus Hati. Pihaknya siap menerjunkan dokter-dokter profesional sebagai tutor pelatihan.

Bahkan, pihaknya siap mengampanyekan program ini kepada masyarakat luas. Dengan memanfaatkan teknologi digital, edukasi teknik pijat bayi bisa dilakukan secara hibrid, atau secara luring dan daring.

Halaman:

Terkini