“Saya melihat lebih banyak investasi akan masuk ke Jawa Tengah, bukan hanya dari China, tetapi juga Singapura dan negara-negara lainnya,” ujarnya.
Chief Executive IOA Global Pte Ltd, Razali Ramli, menambahkan, kedekatan budaya antara masyarakat Jawa Tengah dengan pelaku usaha dari Fujian menjadi nilai tambah yang mempercepat peluang kerja sama.
“Kesamaan budaya membuat masyarakat maupun pengusaha dari Fujian lebih mudah beradaptasi ketika berinvestasi di Jawa Tengah,” kata Razali.
Gubernur Ahmad Luthfi yang memimpin Jateng bersama Wagub Taj Yasin, menegaskan, pemerintah provinsi siap memberikan kepastian hukum, keamanan investasi, pendampingan, serta percepatan perizinan bagi setiap investor yang masuk ke Jawa Tengah.
Pemprov, kata dia, juga telah menyiapkan berbagai kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing perusahaan.
Menurut Luthfi, investasi yang masuk harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, terutama melalui penciptaan lapangan kerja.
Karena itu, pemerintah daerah terus memperkuat kesiapan sumber daya manusia melalui hampir 1.500 sekolah vokasi, politeknik, dan Balai Latihan Kerja (BLK) yang diselaraskan dengan kebutuhan industri.
“BLK kita menjamin keterampilan tenaga kerja agar siap diterima perusahaan. Investasi sebesar Rp110 triliun pada 2025 mampu menyerap hampir 257 ribu tenaga kerja,” kata Luthfi.
Data Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menunjukkan Singapura masih menjadi salah satu mitra strategis investasi. Sepanjang 2022 hingga Triwulan I 2026, realisasi investasi Singapura mencapai Rp 32,158 triliun, menjadikannya investor terbesar kedua di Jawa Tengah.
Pada Triwulan I 2026 saja, Singapura menempati posisi pertama penanaman modal asing dengan nilai Rp 3,333 triliun atau sekitar 25,8 persen dari total investasi asing yang masuk ke Jawa Tengah.***