Meskipun, Reformasi 1998 sempat membuka ruang perubahan lebih mendasar, namun segera diinterupsi oleh kepentingan elit.
Bahkan pada Pilpres 2014 dan 2019, perseteruan antar calon justru memecah rakyat menjadi dua kubu, memperdalam polarisasi, sementara akar ketimpangan tetap terabaikan.
Baca Juga: 7 Brimob Diperiksa Propam Kasus Ojol Tewas, Pemeriksaan Berlangsung Terbuka
"Kelima, Hilirisasi dan Peluang Perubahan". Jelasnya.
Bagas menyebut, Pada periode kedua pemerintahannya, Presiden Jokowi merangkul Prabowo dalam kabinet dan di penghujung masa jabatan meluncurkan program Hilirisasi.
Program ini sejatinya sejalan dengan gagasan industrialisasi nasional yang menekankan pentingnya mengolah sumber daya di dalam negeri, bukan menjualnya mentah ke pasar global.