Tapi ternyata ada chek point terakhir atau ada lagi pos terakhir. Dan kami kembali terdiam dan membisu dengan tegang dan penuh harap semoga bisa masuk dengan lancar seperti chek point sebelumnya. Betul sekali, saat kami dicek dan surat tasrih atau pas jalan itu saya sembunyikan, dan alhamdulillah lancar dan dipersilahkan untuk menuju ke Makkah dalam hal ini menunaikan umrah wajib. Kata "Alhamdulillah…" secara serempak diteriakkan dengan keras oleh kami semua, dan kami langsung bisa menunaikan umrah wajib segera setelah memasuki kota Makkah.
Apa yang dipetik dari cerita itu? Paling tidak ada tiga pelajaran bagi siapa saja sebagai petugas dalam melakukan perjalanan dari mana saja terutama dari Madinah, terkait dengan adanya chek point oleh petugas polisi Arab Saudi. Pertama, pastikan surat-surat atau dokumen yang kita bawa adalah sesuai dengan fakta secara administratif. Benar yang disampaikan Gus Menteri, bahwa polisi bekerja sesuai SOP, kalau tidak ada visa haji, pasti tidak bisa berhaji. Dengan keterangan lain atau dengan alasan lain tidak akan mengubah keputusan.
Kedua, tidak boleh ada "ujub" atau jumawa atau takabur, dengan mengusungkan dada sudah sekian puluh tahun di Makkah, sehingga tahu sudut manapun. Dan ternyata ini dibuktikan bahwa kami memang tidak boleh ada sedikitpun rasa sombong atau jumawa, apalagi di Tanah Suci.
Dan ketiga, perbanyak istirahat dan dzikir dalam hati selama perjalanan menuju ke Masjidil Haram. Sebagai kekuatan untuk menenangkan hati dan untuk memohon kepada Allah sang Pencipta supaya perjalanan lancar dan sehat. Tiga hal ini menjadi kunci bagi kami dalam menghadapi tantangan perjalanan memasuki kota suci Makkah, dan mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran bagi yang lain.