PANTURANETWORK.COM - Pegiat media sosial (medsos) Denny Siregar menilai kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Jawa Tengah belakangan ini merupakan tanda kepanikan atas posisi calon presiden (Capres) nomor urut 02 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Jokowi panik, kata Denny, lantaran pasangan calon (paslon) yang didukung itu suaranya stagnan.
"Saya sejak lama sudah melinat manuver Pak Jokowi jadi nggak heran lagi. Kalau kita melihat kenapa kok Pak Jokowi banyak turun di Jateng, lalu bansos itu gila-gilaan dikeluarkan, itu pertanda beliau panik," ujar Denny dalam acara ‘Ngobrol Daging 24 SKS’ bersama masyarakat, di rumah makan burjois Kota Semarang, Rabu (31/1).
Denny lalu mengibaratkan kepanikan Jokowi bak raja dalam permainan catur. Dalan permainan catur, sambung dia, jika raja banyak bergreak, maka itu artinya sedang terdesak.
Denny juga menyebut, survei yang kerap mendudukan elektabilitas pasangan Prabowo Gibran lebih dari 50 persen itu bohong-bohongan. Dan Jokowi menyadari, bahwa survei di atas 50 persen itu hanya untuk menyenangkannya, bukan fakta di lapangan.
"Kalau misalnya kata survei bayaran itu Prabowo di atas 50 persen, kenapa Pak Jokowi harus berkantor di Jateng? Jalan aja di Jakarta. Jadi, ketika beliau turun langsung ke lapangan, berarti ada kepanikan. Kalau filosofi catur itu begitu ketika raja sudah banyak bergerak berarti dia sudah terdesak," tegas dia.
Denny juga meminta para pemuda yang hadir dalam acara tersebut untuk lebih kritis dalam memilih calon pemimpin. Jangan sampai mereka tertipu dengan gimik-gimik di media sosial.
"Kita ada di era media sosial. Media sosial ini lah yg banyak mengubah presepsi banyak orang tentang bagaimana kita bernegara, karena saya selalu pesan kepada anak-anak muda belajarlah sejarah. Dari sejarah itu kita akan mengetahui rekam jejak para pemimpin kita, dengan begitu kita akan tahu siapa yang kita pilih. Bukan karena kosmetik, bukan karena cuma joget-joget, tapi karena rekam jejak," jelas dia.
Denny juga menyoroti sejumlah aktivis 1998 yang kini justru berbalik mendukung Prabowo. Ia menegaskan sikap itu justru bertentangan dengan misi reformasi yang dulu mereka perjuangkan.
"Ujian dari kita adalah ketika di puncak kekuasaan, dan sekarang kita lihat banyak teman yang dulu itu orangnya reformis bisa melawan kekuasaan. Namun, ketika digoda dengan semua tawaran, mereka akan belok juga. Inilah saat orang dinilai dari konsistennya," kata Denny.
Baca Juga: Dicurhati Penyandang Tuli di Maluku, Ganjar Siap Berikan Kesetaraan dan Keadilan Bagi Kaum Difabel
Sementara, pegiat medsos lainnya, Eko Kunthadi, menyoroti pengekangan kebebasan berpendapat dan maraknya normalisasi kekerasan belakangan ini. Ia menegaskan, ancaman terhadap kebebasan berpendapat serta normalisasi tindak kekerasan oleh oknum aparat tidak boleh terjadi lagi.
Ia mencontohkan, kasus kekerasan oknum prajurit TNI di Boyolali beberapa waktu lalu. Serta, kiwari kasus kekerasan oknum TNI kepada warga di Gunungkidul. Kebetulan, pada dua kasus tersebut, korbannya adalah warga yang mendukung Ganjar-Mahfud.
"Kita lihat apa yang terjadi di Boyolali kemarin. Bagaimana kekerasan begitu dinormalisasi," kata Eko Kuntadhi ditemui seusai acara.