KH Wawan Arwani Ceritakan Keberanian Mbah Said Melawan Penjajah

photo author
Abdul Wahhab, Pantura Network
- Kamis, 18 Januari 2024 | 16:38 WIB
KH Wawan Arwani Ceritakan Keberanian Mbah Said Melawan Penjajah
KH Wawan Arwani Ceritakan Keberanian Mbah Said Melawan Penjajah

PANTURANETWORK.COM -- Rais Syuryiah PCNU Kabupaten Cirebon, KH Wawan Arwani menyampaikan bahwa Gedongan merupakan pesantren yang memiliki keramat. Sebab dengan keberaniannya, Mbah Said tegas untuk tidak menjalin kerja sama dengan pihak Belanda saat masa penjajahan.

“Jelas, Mbah Said tegas sikapnya untuk non kooperatif kepada Belanda. Diceritakan beliau pernah kedatangan tamu residen Belanda dari Cirebon. Saat itu Mbah Said memilih tetap ngajar ngaji, beliau tetap tidak menemui tamu tersebut sampai selesai ngaji hingga jam 10 malam,” ungkap putra Kiai Amin Siroj itu saat memberikan sambutan mewakili sesepuh PP Gedongan dalam acara Seminar Nasional Kebangsaan pada Selasa, 16 Januari 2024 di Pondok Pesantren Gedongan Desa Ender Kabupaten Cirebon.

Bupati Cirebon, H Imron Rosyadi ang juga hadir dalam acara tersebut menyampaikan, berdirinya Negara Indonesia yang berideolgikan pancasila itu merupakan hasil pemikiran dari berbagai pihak. Beragam golongan masyarakat, termasuk para kiai turut merumuskan dasar negara republik ini.

Indonesia hari ini, lanjut Imron, dapat berdaulat hasil dari jerih payah para orang tua kita dulu. Mereka berkorban dan berjuang melawan para penjajah, sehingga Indonesia meraih kemerdekaan.

Baca Juga: Kanwil DJP Jateng I Kukuhkan 200 Relawan Pajak

"saya mengingatkan bahwa membincang sejarah bangsa harus diimbangi dengan permasalahan yang saat ini tengah terjadi," terangnya.

Sementara itu, narasumber pertama, Prof. Mujib Qolyubi menjelaskan, di saat NU lahir pada 1926, para ulama saat itu mendapatkan Ilham dari Allah bahwa 10 tahun ke depan Indonesia akan merdeka.

“Kiai-kiai khas alias kiai kita ini sebelum Indonesia merdeka, mereka seakan dikasih bocoran oleh malaikat. Mungkin beliau-beliau ini ditanya malaikat begini 'Indonesia mau jadi negara apa? Sekuler, agama, atau demokrasi?' Ternyata yang dipilih negara demokrasi,” jelas kiai Mujib.

Ia menambahkan, apa yang dilakukan para kiai terdahulu itu bukan tanpa landasan. Saat itu, kiai-kiai terlebih dahulu bermusyawarah di Banjarmasin pada Muktamar ke-11 tahun 1936.

Baca Juga: Henderson Ngebet Pindah Ke Eropa Demi Amankan Ini Di Euro 2024

“Kiai kita dulu minta petunjuk kepada Allah, dan musyawarah melalui bahsul masail, diambil dari kitab-kitab kuning, salah satunya kitab Bughyatul Musytarsyidin yang cukup representatif dan otoritatif dipelajari di pesantren,” ujar pengurus MUI Pusat itu.

Narasumber berikutnya, Prof. Rohmin Dahuri menyebut bahwa syarat negara menjadi maju, makmur, dan berdaulat itu ada empat.

“Pertama, konsep membangun wilayah diimplementasikan secara berkesinambungan. Kedua, antar komponen wilayah saling berkolaborasi. Ketiga, kualitas sumber daya dan keempat pemimpin yang kompatibel, cerdas, dan tegas,” jelas Mantan Menteri Kelautan itu.

Kemudian narasumber terakhir, Ahnas menyampaikan, banyak anak muda yang ingin bekerja di luar negeri. Karenanya pemerintah berkewajiban melindunginya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Abdul Wahhab

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X