Ada hal menarik dari Jati Kerep yang mungkin belum banyak diketahui wisatawan.
Baca Juga: Jateng Perkuat Wisata Ramah Muslim untuk Menembus Pasar Internasional
Kawasan ini juga memiliki lanskap mangrove dan pesisir yang menjadi bagian dari lingkungan ekologis Karimunjawa. Sebuah penelitian mengenai komunitas mangrove di Kemujan dan kawasan Jati Kerep menemukan sejumlah jenis mangrove serta menunjukkan pentingnya ekosistem tersebut bagi kawasan pesisir.
Artinya, kehidupan masyarakat di sini memang tidak bisa dipisahkan begitu saja dari alam sekitarnya. Laut menyediakan bahan pangan. Pesisir menjadi ruang hidup. Mangrove membantu menjaga kawasan pantai. Sementara budaya menjadi cara masyarakat mempertahankan identitasnya.
Semua saling terhubung.
Karena itu, konsep seperti Cultural Food Village menjadi menarik ketika ditempatkan dalam konteks pariwisata.
Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat sesuatu.
Mereka datang untuk mengalami sesuatu. Mencicipi makanan, Melihat pertunjukan, Mengenal masyarakat, Mendengar cerita.
Dan pulang membawa pengalaman yang tidak bisa didapat hanya dari foto pemandangan.
Wisata yang Membuat Warga Ikut Bercerita
Pariwisata sering kali dibicarakan dalam angka: jumlah wisatawan, tingkat kunjungan, okupansi penginapan, atau pendapatan.
Namun ada ukuran lain yang juga penting: seberapa banyak masyarakat lokal ikut menjadi bagian dari cerita wisata tersebut.
Baca Juga: Produksi Kopi Lokal Terus Menguat, Waka DPRD Jateng Minta Hilirisasi Dipercepat
Ketika makanan lokal mendapatkan tempat, pelaku kuliner memiliki ruang.