Jadi ketika makanan lokal ditempatkan dalam sebuah festival atau food village, yang sedang diperkenalkan sebenarnya bukan cuma menu.
Yang sedang diperkenalkan adalah cerita di balik menu tersebut.
Baca Juga: PTSL 2026 di Parang Karimunjawa Dibuka, Biaya Rp350 Ribu per Bidang
Panggung Kecil, Pesan yang Besar
Salah satu bagian yang paling mencuri perhatian dalam video adalah pertunjukan tari.
Anak-anak tampil mengenakan busana bernuansa tradisional. Gerakan mereka mungkin terlihat sederhana. Tetapi di balik gerakan tersebut ada proses belajar yang tidak sederhana.
Ada latihan, Ada guru atau pendamping, Ada orang tua yang menyiapkan kostum. Ada keberanian untuk tampil di depan orang banyak.
Dan yang paling penting, ada proses memperkenalkan budaya kepada generasi yang sejak kecil hidup di tengah perubahan zaman.
Di era ketika anak-anak lebih mudah menemukan tren dari Seoul, Jakarta, atau bahkan belahan dunia lain hanya melalui layar ponsel, panggung lokal seperti ini menjadi semakin penting.
Baca Juga: Hari Pahlawan, Sekda Jateng Ingatkan Gen Z agar Tak Lupa Jati Diri Bangsa
Bukan untuk menolak budaya baru.
Tetapi untuk memastikan bahwa ketika anak-anak tumbuh dengan dunia yang semakin global, mereka masih tahu dari mana mereka berasal.
Budaya tidak harus selalu disimpan dalam museum.
Kadang budaya justru harus dibiarkan tampil.
Ditonton, Dipentaskan, Dimakan, Diceritakan.
Dan tentu saja, dibuat menyenangkan.
Jati Kerep dan Wajah Karimunjawa yang Berbeda