Lyora berbeda, masih terlalu fokus pada sudut pandang perempuan -seolah reproduksi adalah tanggung jawab eksklusif istri. Karakter suami (Noer Fajrieansyah yang diperankan Darius Sinathrya) terlalu 'sempurna', tidak menunjukkan konflik internal justru mengurangi kedalaman cerita.
Syahdan, film Lyora: Penantian Buah Hati layak ditonton sebagai cermin perjuangan banyak pasangan infertil.
Film ini juga mengingatkan kita, di era perempuan punya hak untuk memilih -baik menjadi ibu melalui bayi tabung, mengadopsi, atau hidup child-free -sistem sosial dan kebijakan harus mendukung semua pilihan tersebut tanpa stigma.
Sampai kelupaan, saya memberi nilai pada film Lyora sebesar 7,5. Kurang 2,5 karena suaminya terlalu sabar -di dunia nyata, mana ada suami kayak gitu?
Muhammad Agung Prayoga (Kader PKC PMII Jawa Tengah)