hiburan

Lyora : Ketika Rahim Menjadi Medan Juang dan Doa

Selasa, 12 Agustus 2025 | 22:26 WIB
Muhammad Agung Prayoga, sosok penulis (Istimewa for Pantura Network)

PANTURA NETWORK -- Kalau ada film yang bikin penontonnya sesenggukan sambil berkaca-kaca, tapi juga geleng-geleng kepala karena ironi kehidupan, Lyora: Penantian Buah Hati layak masuk nominasi.

Ini kisah tentang Meutya Hafid, seorang menteri yang tangannya gesit mengatur kebijakan digital, tapi rahimnya 'mogok' diajak kerja sama. Sudahlah jadi menteri, disuruh ngurusin embrio pula!

Disutradarai oleh Robert Ronny, film ini menggambarkan perjalanan pasangan karir sukses yang berjuang melalui prosedur bayi tabung, keguguran berulang, dan tekanan emosional.

Baca Juga: OJK Luncurkan Pedoman Keamanan Siber untuk Industri Aset Digital

Marsha Timothy, yang memerankan Meutya, berhasil menyampaikan kompleksitas emosi perempuan karir yang terombang-ambing antara ambisi profesional dan keinginan menjadi ibu.

Adegan pemeran utama saat di ambang putus asa, denial karena gagal berulang kali sampai membuatnya ogah berbicara dengan Tuhan. "Buat apa jadi perempuan jika tidak memiliki anak," mungkin begitu pikir Meutya.

Scene air terjun menambah kegetiran, saat Meutya diberikan nasehat serupa adu nasib dari Metty Rumaety (ibu Meutya). Metty mengaku mengidap kanker tapi tidak menyerah, di situ Meutya sesenggukan.

Baca Juga: Wakil Bendahara Partai Prima Jepara Auliya Rohman Wanti-Wanti PBJ Jepara “Pinjam Bendera” di Proyek Infrastruktur, Jangan Sampai Jadi Korban Pajak

Tapi jangan salah! Film ini kelihatan manis, seperti Jenang Kudus yang legit. Semua orang di sekitar Meutya seolah green flag, suami setia, mertua sabar, ibu pengertian. "Ah, ini mah cerita dongeng" batin saya.

Di dunia nyata, coba saja seorang menteri perempuan tidak punya anak -pasti sudah kedengaran bisik-bisik tetangga : "Dia sibuk meniti karir, makanya rahimnya dingin!" atau "Mungkin dosa masa lalu, itu lho….". Tapi di sini, konfliknya malah 'steril', seperti ruang operasi bayi tabung.

Data BKKBN bilang 1 dari 5 pasangan infertil. Tapi di layar, Meutya bisa bayi tabung dengan budget menteri. Kalau rakyat biasa? "Ya, tabung saja dulu rezekinya, baru tabung embrio," kelakar ini mirip nasib BPJS yang belum mau nanggung IVF.

Baca Juga: YBM PLN UIK Tanjung Jati B Gelar Cek Gula Darah Gratis & Pembagian Paket Gizi untuk Lansia di Bapangan

Setidaknya butuh Rp 70–150 juta per siklus IVF. Menurut data Kementerian Kesehatan (2023), hanya 15% pasangan infertil yang mampu mengakses layanan IVF, termasuk Meutya Hafid.

Namun bagi saya, ikhtiar Meutya patut diacungi jempol. Segala cara dilakukan.

Sementara itu, apabila dibandingkan dengan film Critical Eleven (2017), yang dibintangi Reza Rahardian malah menggambarkan duka keguguran secara lebih egaliter.

Halaman:

Tags

Terkini

Nicolas Maduro Ada Sanak Keluarga di Pulau Madura?

Selasa, 6 Januari 2026 | 14:09 WIB

Relativis

Selasa, 18 November 2025 | 10:05 WIB

Lyora : Ketika Rahim Menjadi Medan Juang dan Doa

Selasa, 12 Agustus 2025 | 22:26 WIB

Kabar Baik, Anime Dandadan Season 2 Sudah Tayang

Minggu, 6 Juli 2025 | 03:21 WIB