PANTURA NETWORK -- Transformasi pengelolaan wisata pesisir di Jepara memasuki babak baru. Fakultas Teknik (FT) Universitas Gadjah Mada (UGM) tengah melakukan penelitian berbasis data spasial di kawasan Pantai Bandengan, salah satu destinasi paling ramai dikunjungi di Jepara. Riset ini menggunakan teknologi mutakhir - drone pemetaan dan UAV LiDAR - yang selama ini menjadi standar survei geodesi presisi tinggi.
Langkah ini merupakan tindak lanjut dari konsultasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara kepada UGM sejak awal 2025 untuk memenuhi kebutuhan data spasial dalam pembangunan daerah, khususnya sektor pariwisata pesisir.
Ketua Tim Penelitian Geolive FT UGM sekaligus Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Departemen Teknik Geodesi, Bilal Ma’ruf, bertemu jajaran Pemkab Jepara pada Kamis (11/12/2025). Pertemuan berlangsung di Ruang Rapat Sosrokartono Setda, diterima oleh Sekretaris Daerah Ary Bachtiar mewakili Bupati Jepara Witiarso Utomo (Mas Wiwit).
Baca Juga: Jepara Raih Genting Award 2025, Bukti Kuatnya Gotong Royong Tekan Angka Stunting
Pada kesempatan itu, Bilal memaparkan, penelitian akan menghasilkan tiga luaran utama, pertama, peta topografi berpresisi tinggi; kedua, peta pariwisata Pantai Bandengan; ketiga, peta tata ruang eksisting.
Ketiga peta ini akan menjadi landasan Pemkab Jepara dalam merumuskan arah pembangunan wisata pesisir yang berkelanjutan.
"Kami ingin memberi gambaran kondisi eksisting Pantai Bandengan sebagai dasar perencanaan ke depan," papar Bilal.
Baca Juga: Luthfi: Pembangunan Tak Cukup APBD, Perlu Kolaborasi dan Inovasi Besar
Bilal menjelaskan, Pantai Bandengan dipilih karena menjadi primadona wisata Jepara dengan tingkat kunjungan tertinggi. Dengan beban wisatawan yang tinggi, pemetaan spasial berbasis teknologi canggih - drone fotogrametri dan UAV LiDAR - dinilai penting memetakan perubahan garis pantai, tekanan lingkungan, hingga potensi pengembangan spot wisata baru.
Adapun penelitian ini berlangsung selama enam bulan dengan alur, akuisisi data pada September 2025, kemudian Oktober - November 2025 untuk pengolahan data, sesi terakhir saat Desember 2025 menyerahkan data.
"Ini dukungan akademis yang kami butuhkan untuk menjaga pesisir tetap lestari sekaligus meningkatkan nilai ekonomi wisata," terang Bilal.
Baca Juga: Program Perumahan Jateng Dipacu, Backlog Ditarget Tuntas Lima Tahun
Pemkab Jepara menilai riset ini bukan sekadar proyek akademis, melainkan pondasi pengambilan kebijakan berbasis data presisi. Selain mendukung promosi wisata, hasil pemetaan akan menjadi instrumen penting mitigasi abrasi yang kian mengancam kawasan pesisir utara Jawa.
"Hasil pemetaan diharapkan tak hanya meningkatkan daya tarik wisata, tetapi juga memperkuat mitigasi abrasi serta pengelolaan ruang yang lebih berkelanjutan," ujar Sekda Ary Bachtiar.
Pemkab berharap riset ini tak berhenti pada peta dasar. Ke depan, data spasial Pantai Bandengan dapat dikembangkan ke model 3D kawasan pesisir, bisa dashboard pemantauan lingkungan hingga prototipe smart city pesisir yang memadukan wisata, mitigasi bencana, dan tata ruang terpadu.