Menurutnya, peternakan dengan kapasitas 30.000 ekor sapi perah akan menghasilkan sekitar 180.000 ton susu segar setiap tahun. Produksi sebesar itu diperkirakan akan mengangkat Jawa Tengah menjadi produsen susu terbesar kedua di Indonesia.
Dijelaskan, perusahaan juga akan membangun kemitraan dengan masyarakat melalui tiga skema, yakni pengembangan sapi pedaging, pengelolaan sapi perah oleh peternak rakyat, serta kemitraan penyediaan hijauan dan pakan ternak.
“Kami ingin membangun ekosistem industri susu yang mandiri, kompetitif, sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif di pedesaan,” ujarnya.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan, pembangunan peternakan tersebut menjadi bagian penting dari strategi nasional mengurangi ketergantungan impor susu.
Berdasarkan proyeksi Kementerian Pertanian, kebutuhan susu nasional pada 2026 mencapai sekitar 8,32 juta ton. Namun produksi dalam negeri baru sekitar 2,9 juta ton atau hanya mampu memenuhi sekitar 35 persen kebutuhan nasional.
“Saat ini impor susu masih sekitar 82 persen. Arahan Presiden Prabowo Subianto jelas, selama peternak dalam negeri mampu memproduksi, kebutuhan itu harus dipenuhi dari produksi nasional,” kata Amran.
Ia berharap Jawa Tengah mampu menjadi salah satu lumbung susu nasional dengan kontribusi sekitar 20 persen terhadap kebutuhan nasional. Menurutnya, target tersebut dapat dicapai melalui kolaborasi antara pemerintah, koperasi, peternak, dan sektor swasta.
“Kita harus bergerak bersama. Tidak bisa bekerja sendiri. Pemerintah akan merumuskan kebijakan yang semakin berpihak kepada peternak agar swasembada susu segera terwujud,” ujarnya.***