news

Anak Tukang Ojek hingga Buruh Tani Kini Bisa Sekolah Gratis, Luthfi: Ora Usah Minder

Senin, 13 Juli 2026 | 14:20 WIB
Anak Tukang Ojek hingga Buruh Tani Kini Bisa Sekolah Gratis, Luthfi: Ora Usah Minder

Bagi Ahmad Luthfi, kisah-kisah seperti itulah yang menjadi alasan negara harus hadir. Di hadapan para siswa, ia berulang kali menegaskan bahwa kemiskinan tidak boleh menjadi penghalang untuk meraih pendidikan maupun cita-cita.

“Boleh kita punya sekolah yang berbeda. Boleh kita punya latar belakang yang berbeda, tetapi masa depan kalian yang menentukan. Ora usah berkecil hati, ora usah minder. Semangat!” pesan Luthfi, yang memimpin Jawa Tengah bersama Wagub Taj Yasin.

Ia menegaskan, setiap anak berhak memperoleh pendidikan tanpa memandang kondisi ekonomi keluarganya.

“Mereka harus tetap sekolah, tidak boleh putus sekolah. Sekolah tidak boleh berhenti hanya karena kondisi keluarga kurang mampu,” tegasnya.

Menurut Luthfi, Program Sekolah Kemitraan merupakan bentuk kehadiran pemerintah dalam memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap memperoleh akses pendidikan yang layak.

Ia menyebut, para siswa yang ditemuinya berasal dari berbagai latar belakang. Ada anak pedagang angkringan, pengemudi ojek, buruh, hingga anak yang telah kehilangan orang tua dan diasuh kerabat. Meski demikian, mereka memiliki semangat yang sama untuk mengubah masa depan melalui pendidikan.

“Ini adalah bentuk tanggung jawab negara untuk memberikan jaminan dan kepastian pendidikan bagi mereka,” ujarnya.

Pada Tahun Ajaran 2026/2027, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggandeng 139 sekolah swasta yang terdiri atas 56 SMA dan 83 SMK dalam Program Sekolah Kemitraan. Sebanyak 3.663 siswa diterima melalui program tersebut, terdiri atas 1.063 siswa SMA dan 2.600 siswa SMK. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 2.390 siswa.

Di Kota Semarang sendiri, sebanyak 51 siswa diterima melalui program tersebut, yakni 24 siswa di SMA Laboratorium UPGRIS, 21 siswa di SMK Bina Nusantara, dan enam siswa di SMK Ibu Kartini.

Dalam kesempatan itu, sebanyak 55 siswa juga menerima bantuan perlengkapan sekolah dan sepatu. Sementara orang tua mereka memperoleh paket sembako dari Baznas Jawa Tengah.

Luthfi turut mengingatkan seluruh kepala sekolah dan guru agar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) berlangsung aman, ramah, dan bebas dari praktik yang dapat melukai psikologis peserta didik.

“Tidak ada lagi perpeloncoan, tidak ada lagi perundungan, apalagi sampai menimbulkan rasa minder. Sekolah tidak menakutkan, tetapi harus menjadi tempat yang menyenangkan sehingga anak-anak merasa nyaman,” katanya.

Menutup kunjungannya, Luthfi berpesan agar kesempatan yang telah diberikan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Pendidikan, menurutnya, bukan sekadar jalan meraih cita-cita, tetapi juga sarana memutus rantai kemiskinan dan mengangkat derajat keluarga.

“Kalian harus menjadi anak-anak yang berbakti kepada orang tua, mempunyai cita-cita yang luhur, serta mampu mengubah diri sendiri maupun keluarga menjadi lebih baik,” ungkapnya.***

Halaman:

Terkini