news

Anak Tukang Ojek hingga Buruh Tani Kini Bisa Sekolah Gratis, Luthfi: Ora Usah Minder

Senin, 13 Juli 2026 | 14:20 WIB
Anak Tukang Ojek hingga Buruh Tani Kini Bisa Sekolah Gratis, Luthfi: Ora Usah Minder

SEMARANG - Senyum Rafa Fidianto tak henti mengembang saat mengenakan seragam SMA untuk pertama kalinya. Di balik senyum itu, tersimpan perjalanan yang nyaris terhenti.

Putra seorang pengemudi ojek tersebut sempat gagal diterima di sekolah negeri karena nilai yang belum memenuhi syarat. Namun, harapannya untuk melanjutkan pendidikan tidak pupus.

Melalui Program Sekolah Kemitraan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Rafa akhirnya mendapat kesempatan bersekolah di SMA Laboratorium UPGRIS, Kota Semarang.

Pada hari pertama masuk sekolah, Senin (13/7/2026), Rafa menjadi salah satu siswa yang disapa langsung Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.

Percakapan sederhana tentang pekerjaan orang tua, jumlah saudara, hingga cita-cita membuka kisah perjuangan seorang anak yang hanya ingin terus belajar.

“Saya sempat daftar ke sekolah negeri, tetapi nilainya belum cukup. Sekarang saya senang bisa sekolah di sini dan punya banyak teman,” ujar Rafa.

Anak pertama dari dua bersaudara itu mengaku bercita-cita menjadi prajurit TNI agar kelak dapat membanggakan kedua orang tuanya.

Cerita serupa datang dari Noval Surya Saputra. Hari itu, ia datang ke sekolah didampingi sang ibu, Mutiari Setyawati. Bagi keluarga kecil itu, kesempatan bersekolah tanpa dipungut biaya menjadi harapan baru setelah berbagai keterbatasan yang mereka hadapi.

Awalnya, Noval ingin melanjutkan pendidikan di sekolah negeri. Namun, jarak dari rumah mereka di Bandungan menjadi pertimbangan hingga akhirnya memilih SMA Laboratorium UPGRIS melalui Program Sekolah Kemitraan.

“Alhamdulillah kami sangat terbantu. Sebagai orang tua, saya terus memotivasi anak agar jangan sampai minder,” kata Mutiari.

Ia mengaku terus mendampingi putranya agar tetap percaya diri setelah sempat mengalami tekanan akibat perpisahan orang tua. Baginya, pendidikan menjadi jalan terbaik untuk membangun kembali masa depan anak.

Di sudut lain sekolah, kisah perjuangan juga datang dari seorang ibu yang bekerja sebagai buruh tani. Dengan penghasilan sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu per hari, ia mengaku nyaris tidak sanggup membiayai pendidikan anak ketiganya yang kini tumbuh tanpa sosok ayah.

Program Sekolah Kemitraan menjadi jawaban atas kegelisahan itu.

“Alhamdulillah, anak saya bisa sekolah dan masih mau sekolah. Harapan saya, anak saya bisa hidup lebih ringan dan tidak seperti ibunya,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Halaman:

Terkini